fase turunya al-qur'an




BAB I
P ENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama.sehingga kita hendaknya harus dapat meqmahami tentang kandungan di dalamnya. Al-qur’an dengan huruf-hurupnya,bab-babnya, surat-suratnya dan ayat-ayatnya yang sama diseluruh dunia, baik di jepang, berasilia, iraq dan alin-lain. Andai kata iya bukan dari Allah Swt, tentu terdapat perbedaan yang banyak
Al-qur’an adalah laksana sinar yang memberikan penerangan terhadap kehidupan manusia, bagaiakan pelita yang memberikan cahaya kearah hidayah ma’rifah.  Al-qur’an juga adalah kitab hidayah dan ijaz ( melemahkan yang lain ). Ayat-ayatnya tentu di tetapkan kemudia di mperinci dari Allah Swt. Yang maha bijak sana atau maha mengetahui. Oloeh kerena itu kit sebangai umat islam harus benar-benar menyetahui kandungan-kandungan yang ada di dalamnya dari berbagai aspek. Ulumul qur’an adalah salah satu jalan yang bisa membawa kita dalam memahami kandungan Al- qur’an.















BAB II
PEMBAHASAN
A. Fase Turunya Al-Qur’an
1. Tahap pertama ( At-Tanazzulul Awwalu ), Al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan di Lauh Mahfudh, yakni suatu tempat di mana manusia tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-Buruj : 21-22.

 Artinya : Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

Penjelasan mengenai sejak kapan Al-Qur’an ditempatkan di Lauh Mahfudh, dan bagaimana caranya adalah merupakan hal-hal gaib yang menjadi bagian keimanan dan tidak ada yang mampu mengetahuinya selain dari Allah swt. Dalam konteks ini Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus maupun secara keseluruhan. Hal ini di dasarkan pada dua argumentasi. 

Pertama: Karena lahirnya nash pada ayat 21-22 surah al-Buruj tersebut tidak menunjukkan arti berangsur-angsur. Kedua: karena rahasia/hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tidak cocok untuk tanazul tahap pertama tersebut. Dengan demikian turunnnya Al-Qur’an pada tahap awal, yaitu di Lauh Fahfudz dapat dikatakan secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur.

2. Tahap kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani), Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul `Izzah di Sama’ al-Dunya (langit dunia), yakni setelah Al-Qur’an berada di Lauh Mahfudh, kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul `Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Banyak isyarat maupun penjelasannya dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. antara lain sebagai berikut dalam Surat Ad-Dukhan ayat 1-6 :

 Artinya: Ha-Mim. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Ad-Dukhan 1-6).

Hadis riwayat Hakim dari Sa`id Ibn Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw bersabda: Al-Qur’an itu dipisahkan dari pembuatannya lalu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, kemudian mulailah Malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.



Hadis riwayat al-Nasa’i, Hakim dan Baihaki dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata: Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit selama duapuluh tahun.

3. Tahap ketiga (At-Tanazzulu Ats-tsaalistu), Al-Qur’an turun dari Baitul-Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW., yakni setelah wahyu Kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya di tempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian pada tahap ketiga Al-Qur’an disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam hal ini antara lain tersebut dalam QS Asy-Syu`ara’ : 193-194, Al-Furqan :32 sebagai berikut:

 Artinya : Ia (Al-Qur’an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (Asy-Syu`ara’: 193-194).
            Artinya : Berkatalah orang-orang kafir, mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya Kami perbuat hatimu dengannya dan Kami (menurunkan) dan membacakannya kelompok demi kelompok (Al-Furqan ayat 32).
B. Ciri-ciri
Ciri-ciri Ayat Makkiyah dan Madaniyyah dalam Al-Quran – Ayat-ayat Makkiyah maupun Madaniyyah yang terdapat Al Qur’an memiliki beberapa perbedaan yang menjadi ciri khas. Berikut ini adalah ciri-ciri yang terdapat pada kedua kategori ayat tersebut.
Makkiyah 
 Ayat-ayat pendek.
 Diawali dengan yaa ayyuhan-naas (wahai manusia).
 Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah swt, masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi).
Madaniyyah             
 Ayat-ayatnya panjang.
 Diawali dengan yaa ayyuhal-ladziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman).
 Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.
Nabi Muhammad saw menerima wahyunya yang pertama di sebuah gua benama Gua Hira. Gua tersebut terletak di pegunungan sekitar kota Mekah. Wahyu yang pertama kali beliau terima adalah lima ayat pertama surat Al ‘Alaq. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610), yaitu ketika Nabi Muhammad saw berusia 40 tahun.
Rasulullah saw menyampaikan Al Qur’an secara langsung kepada para sahabatnya orang-orang Arab asli- sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Jika mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw.Bukhari Muslim meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibn-Mas’ud.

Ciri-ciri Ayat Makkiyah dan Madaniyyah dalam Al-Quran

”Ketika ayat ini turun (surat Al-An’am, ayat 82), yang memiliki arti ’Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman’, para sahabat gelisah dan khawatir, kemudian bertanya pada Rasulullah: ”Ya, Rasulullah siapakah di antara kita yang tidak berbuat zalim pada dirinya sendiri?” Nabi menjawab: ”Kezaliman di sini tidak seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh, ’Sesungguhnya kemusyrikan adalah benar-benar kezaliman yang besar’ (Luqman (13):13). Jadi yang dimaksud kezaliman adalah kemusyrikan. Ini adalah salah satu cara menafsirkan ayat yang diajarkan oleh Rasulullah, yakni menafsirkan satu ayat dengan ayat yang lain.
Rasulullah saw juga pernah menafsirkan kepada para sahabat beberapa ayat, seperti disampaikan Muslim dari ’Uqbah bin Amir. Ia berkata:
”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbar: ’Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (Al-anfaal (8): 60. Lalu bersabda, Ingatlah bahwa kekuatan yang dimaksud di sini adalah memanah.”
                                                                                               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

huruf dan qira'ah sab'ah