Nuzul Qur'an dan Jam'ul Qur'an



NUZULUL QUR’AN DAN JAM’UL QUR’AN
PADA MASA NABI
A.    Nuzulul qur’an
                  Al-qur’an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 malam ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi, sampai 9 djulhijjah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H.
Proses turunnya al-qur’an kepada nabi Muhammad saw.adalah melalui 3 tahapan, yaitu :
                        Pertama, alqur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh almahfuzh, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruj (85) ayat 21-22;
بل هو قران مجيد. في لوح محفوظ. البروج :21-22
Artinya; “bahkan yang didustakan mereka ialah al-qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam law al-mahfujh”. (Q.S. Al-Buruj ayat 21-22).

            Kedua, al-qur’an diturunkan dari lauh al-mahfujh itu kebaitul al-izzah (tempat yang berada dilangit dunia). Proses kedua ini di syaratkan Allah dalam surat Al-Qadar ayat 1;
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ  
Artinya: “sesungguhnya kami telah menurunkan al-qur’an pada malam kemuliaan”. Q.S. Al-Qadr: 1)

            Ketiga, al-Qur’an diturunkan dari bait Al-izzah kedalam hati nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya 1 ayat, 2 ayat dan bahkan kadang-kadang 1 suroh. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam Q.S. Asyi –syu’ara ayat 193-195.



tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ   4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# ÇÊÒÍÈ 
 Ab$|¡Î=Î/ <cÎ1ttã &ûüÎ7B ÇÊÒÎÈ  
Artinya; “dia dibawa turun oleh ar-ruh al-amin (jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang yang member peringatan, dengan bahasa rab yang jelas”. (Q.S. A.syi-syu’ara ayat 193-195).

Al-Qur’an diturnkan kepada nabimuhammada saw. Melalui malaikat jibril, tidak secara sekaligus, melainkan sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, sering wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada nabiatau untuk membenarkan tindakan Nabi Muhammad saw.di samping itu, banyak pula ayat atau surat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian trtentu.
Hikmah yang terkandung dalam hal ditutrnkan al-qur’an berangsur-angsur, antara lain;[1]
1.      Memantapkan hati nabi.
2.      Menentang dan melemahkan para penentang al-qur’an.
3.      Memudahkan untuk dihapal dan dipahami.
4.      Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat al-qur’an turun) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.
5.      Membuktikan dengan pasti bahwa-alqur’an turun dari Allah yang maha bijaksana

B.     Pengumpulan Al-Qur’an (Jam’al Al-Qur’an)
Dikalangan ulama, terminology pengumpulan al-qur’an (jam’al al-qur’an) memiliki dua konotasi; konotasi penghapalana al-qur’an dan konotasi penulisannya secara keseluruhan.
1.      Proses penghapalan al-qur’an
Kedatangan wahyu merupakan sesuatu yang dirin dukan nabi. Oleh karena itu, begitu wahyu datang, nabi langsung menghapal dan memahaminya. Dengan demikian. Nabi adalah orang yang pertama menghapalal-qur’an. Tindakan nabi itu sekaligus merupakan suri teladan yang diikuti pasa sahabat. Imam al-bukhari mencatat sekitar 7 orang sahabat nabi yang terkenal dengan hapalan al-qur’annya. Mereka adalah ‘abdul bin mas’ud, salim bin mi’qal, (maula’-nya abu hudzaifah), mu’adj bin jabal, ubai bin ka’ab, zaid bin tsabit, abu zaid bin as-sakan, dan ab ad-darda.
Penyebutan ketujuh sahabat itu kaitannya dengan penghapalan al-qur’an terkesan tidak rasional da tidak realitas, mengingat selain ketujuh sahabat itu, tercatat pula sahabat-sahabat lain yang jug ikut menghafalkan al-qur’an termasuk ketika nabi masih ada. Bahkan, ada kalangn sahabat wanita yang juga tercatat sebagai penghapal al-qur’an. Untuk menjawab persoalan ini, syahban menjelaskan bahwa pembataan itu tidak bersifat mutlak, kecuali anas telah menjumpai setiap sahabat dan menanyakan perihal hapalan al-qur’an, dan ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya.
2.      Proses penulisan al-qur’an
a.       Pada masa nabi
Kerinduan nabi terhadapa kedatngan wahyu tidak saja diekspresikan dalam bentik hapalan, tetapi jugadalam bentuk tulisan. Nabi memiliki sekretaris pribadi yang khusus bertugs mencatat wahyu. Mereka adalah abu bakar, ‘umar, utsman, ‘ali, abban bin sa’id, Khalid bin al-walid, dan muawiyyah bin abi sufyan. Proses penulisanal-qur’an sangat sederhana. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan berupa lontaan kayu, pelapah kurma, tulang blulang, dan batu.


[1] Rosihon Anwar, Ulumul Al-Qur’an, (Bandung, Pustaka Setia; 2007), Hlm. 35.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

huruf dan qira'ah sab'ah